Berita

Perdalam Perdamaian, 77 Santri Afghanistan Widya Wisata ke Bali

Written by Ichwanul Muslim

Sebanyak 77 Santri Afghanistan yg ikut Program Pendalaman Agama Islam di Indonesia berwidya wisata ke Pulau Bali dari tanggal 28 November – 1 Desember mendatang dalam rangka pendalaman materi Peace Studies (Studi Perdamaian).

77 santri dibagi di dua tempat belajar: 40 santri (23 putra dan 17 putri) di PM Tazakka dan 37 santri putra di Pondok Darul Amanah Kendal.

Setibanya di Pulau Dewata 28 November malam, ke-77 santri Afghanistan beserta Musyrif-Musyrifah Kelas Internasional Afghanistan disambut hangat oleh panitia dari Setwapres RI di Hotel Mercure, Nusa Dua, Bali dengan hidangan malam nan nikmat.

Hari ini (29 November), para santri Afghanistan dan para Musyrif-Musyrifah berkesempatan mengunjungi Institute for Peace and Democracy (IPD) yg berlokasi di area Universitas Udayana Bali.  Disini diadakan seminar bertajuk “Building Ship at The Sea:
The Indonesian Experiences in State and Peace Building” yg disampaikan oleh pembicara dari IPD, I Ketut Putra Erawan, Ph.D.

Dalam paparannya, Bpk. Erawan menjelaskan bhw para pendiri republik Indonesia di tahun 1945 hanya menyempurnakan upaya state building yg sdh diinisiasi para pemuda Indonesia di tahun 1928. Menurutnya, para pemuda Indonesia, karena energi yg meluap luap ingin melihat negerinya bebas dari penjajahan Belanda, sdh membayangkan bagaimana dan spt apa negara Indonesia yg akan mereka bangun di masa depan. Generasi ’45 lalu merealisasikan negara yg diimajinasikan oleh para pemuda berpuluh-puluh tahun sblmnya.

“Jadi, jikalau Afghanistan ingin bebas dari peperangan dan damai, maka kalian-kalian hrs membayangkannya dari sekarang spt apa Afghanistan sepuluh duapuluh tahun ke depan, lalu merealisasikannya,” gugah Bpk Erawan kepada santri Afghanistan yg antusias mengikuti acara.

Siangnya, santri dan Musyrif-Musyrifah Kelas Afghanistan mengunjungi Universitas Udayana (Kampus Utama) di Jimbaran. Rombongan disambut hangat oleh Wakil Rektor Universitas Udayana, Prof. Dr. Ida Bagus Wyasa Putra, SH, M.Hum.

Dalam sambutannya yg mewakili Rektor Udayana, Prof. Ida Bagus Wyasa Putra menyampaikan apresiasi atas Program Kerjasana Setwapres bersama MUI melakukan kunjungan bersama Siswa Afganistan.

Profesor Ida Bagus Wyasa Putra juga menjelaskan bhw jumlah mahasiswa mancanegara yg kuliah di universitasnya saat ini berjumlah 7350. “Kami menyambut hangat Santri Afghanistan yg ingin belajar di Bali lewat jalur Beasiswa,” pungkasnya.

Turut hadir dlm acara tsb, Ketua MUI Provinsi Bali, HM Taufik Ashadi dan Wakil MUI Pusat, KH Muhyiddin Junaidi.

Dalam pidatonya, Haji Taufik Ashadi mengungkapkan bhw meskipun Muslim adlh minoritas di Bali yg berpenganut mayoritas Hindu, umat Muslim sungguh hidup penuh damai di tengah tengah penganut Hindu di Bali.
“Itu dikarenakan semua penduduk Indonesia memiliki Pancasila dan mengamalkannya sungguh sungguh dlm keseharian mereka,” jelas Haji Taufik Ashadi.

Sementara dalam pidatonya, KH Muhyiddin Junaidi, mengharapkan agar masyarakat Afghanistan dapat menjadikan Indonesia sebagai contoh dalam menciptakan Negara yang damai sesuai dgn risalah Islam rahmat bagi seluruh alam.

“Di Indonesia, meskipun umat Islam mayoritas, tidak ada tyranny of majority on minority dan tdk ada pula tyranny of minority on majority. Pancasila sebagai dasar Negara berfungsi mempersatukan seluruh kekuatan bangsa yang terdiri dari berbagai kultur (multi kultural)  baik agama,  etnis maupun suku,” pungkas Kiai Muhyiddin.

Usai acara di Universitas Udayana, para santri dibawa ke Masjid Baitul Huda, Jimbaran, utk melaksanakan shalat Zhuhur. 23 Santri dan 17 santriwati Afghanistan yg belajar di PM Tazakka sungguh merasa takjub saat memasuki area masjid tsb. Pasalnya, disamping masjid terletak gereja, vihara, dan pura. Pemandangan demikian sungguh tdk ada di Afghanistan, dimana 4 tempat ibadah terletak di 1 lokasi yg sungguh berdekatan.

“Itulah bukti keharmonisan relijius di Indonesia, dimana setiap orang secara damai menjalankan ajaran agama yg dianutnya,” jelas Ustadz Edibuana yg mendampingi.

About the author

Ichwanul Muslim

Santri, Guru MAFIKIBI (Matematika Fisika Kimia Biologi) SMP SMA IPA, dan Pengembang Prangkat Lunak berbasis Web dan Mobile

Leave a Comment