Artikel

Umat Islam Tidak Berhak Merayakan Natal

Written by KH Abdul Muiz Ali

Oleh: Abdul Muiz Ali
(Direktur Aswaja Center NU DKI Jakarta)

Umat Islam adalah umat yang senantiasa diajarkan untuk hidup dalam bingkai keberagaman. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sejak di Madinah, sudah memberikan contoh yang baik tentang bagaimana pentingnya membangun masyarakat yang plural (beragam), terdiri atas berbagai agama. Namun demikian, Umat Islam harus bersikap tegas dalam soal aqidah dan ibadah. Aqidah atau keyakinan menjadi landasan kehidupan paling hakiki yang harus dijaga. Meskipun Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersikap sangat baik terhadap Yahudi dan Nasrani dalam hubungan sosial kemasyarakatan, namun Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wassallam mengajarkan sikap tegas dan jelas dalam hal yang berkaitan dengan aqidah dan ibadah. Dalam kerangka itu, menjaga kebenaran dan kemurnian aqidah bagi umat Islam mutlak harus dijaga, termasuk dengan cara tidak ikut merayakan Natal dengan segala bentuknya.

Yang harus dipahami, perayaan Natal adalah acara keagamaan yang sarat dengan ajaran pokok dalam keyakinan Kristen; pengakuan Yesus sebagai Tuhan. Pemeluk agama Kristen meyakini bahwa Yesus Kristus adalah anak Tuhan yang menjelma menjadi manusia, seperti mereka katakan: “Sang Putera Allah menerima dan menjalani kehidupan seorang manusia dalam suatu keluarga. Melalui keluarga itu pula, Ia tumbuh dan berkembang sebagai manusia yang taat pada Allah sampai mati di kayu salib.”

Dalam pandangan Islam menyebut Yesus atau Nabi Isa sebagai anak Tuhan merupakan tuduhan yang tidak mendasar kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa. Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan. Yesus, atau Isa adalah Nabi, adalah manusia biasa. Ia adalah utusan Allah, bukan Tuhan dan bukan anak Tuhan. Dalam surat Maryam disebutkan, memberikan sifat bahwa Allah Subhanahu Wata’ala punya anak, adalah satu kejahatan besar.
Keyakinan Nabi Isa sebagai anak Allah dicap sesat dan kufur di berbagai tempat di dalam al-Quran. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman;

Hampir saja langit pecah, dan bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh, (karena ucapan itu), Karena mereka menganggap Allah yang maha pengasih mempunyai anak” (Qs: Maryam, 90-91).

Karena hakikat Natal bagi keyakinan umat Kristen adalah merayakan lahirnya anak Tuhan, maka sangat tidak benar jika sebagian umat Islam masih memandang, bahwa perayaan Natal sekedar acara sosial-budaya sehingga tidak terkait langsung dengan dasar-dasar kepercayaan Kristen. Umat Islam tidak berhak atau jauh dari kebenaran jika masih ikut merayakan Natal seperti mereka dalam bentuk apapun.

Penegasan seputar tidak boleh ikut merayakan Natal dalam bentuk apapun mencakup tiga aspek hukum yaitu; ikut serta merayakan atau mengikuti perayaan Natal, mengucapkan Selamat Natal kepada orang Kristen, dan memakaian atribut Natal.
Hukum ikut serta merayakan atau mengikuti perayaan Natal adalah haram. Hal ini berdasarkan keputusan Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) tahun 1981. Dalam petikan fatwanya disebutkan, “Perayaan Natal di Indonesia meskipun tujuannya merayakan dan menghormati Nabi Isa ‘Alaihissalam, akan tetapi Natal tidak dapat dipisahkan dari unsur yang diharamkan. Mengikuti upacara Natal bersama bagi ummat Islam hukumnya haram. Agar umat Islam tidak terjerumus kepada syubhat dan larangan Allah Subhanahu wa Ta’ala dianjurkan untuk tidak mengikuti kegiatan-kegiatan Natal”. Hasil Fatwa MUI tentang haramnya mengikuti upacara Natal bersama juga dikuatkan dengan hasil Keputusan Muktamar NU tahun 1999 yang menyatakan, bahwa doa bersama antar umat beragama hukumnya haram.

Selain mengikuti Natal bersama hukumnya haram, mengucapkan Selamat Natal dan memakai atribut Natal hukumnya juga haram. Merayakan Natal yang secara verbal diwujudkan dalam bentuk ungkapan Selamat Natal kepada umat Kristen atau memakai atribut Natal bisa mejadi kufur bila hal tersebut dilakukan karena ada rasa senang dengan tujuan meniru dalam rangka ikut serta syiar atas kekufuran mereka. Bila hal tersebut dilakukan hanya bertujuan ikut serta meramaikan hari raya umat Kristen, dengan tanpa memandang kekufuran mereka, maka hukumnya tidak sampai menjadi kafir tetapi tetap berdosa.

Abdul Muiz Ali*
Penulis adalah Anggota Komisi Fatwa MUI Pusat sekaligus Pengurus Lembaga Dakwah PBNU

About the author

KH Abdul Muiz Ali

Leave a Comment