Artikel

Telaah Fikih Buaya; Dari Daging Hingga Telurnya

Written by KH Abdul Muiz Ali

Oleh : Abdul Muiz Ali
(Wakil Sekretaris Komisi Fatwa MUI)

Mengkonsumsi makanan yang suci, halal dan aman (halalan thoyyiban) termasuk bagian dari sesuatu yang penting dalam Islam. Makanan yang masuk pada tubuh sangat mempunyai pengaruh, baik untuk kesehatan, perilaku atau akhlak, terlebih pada kualitas ibadah. Halal pada sebuah makanan berkaitan erat dengan dengan dzatiah makanan itu sendiri; tidak termasuk makanan yang diharamkan oleh Allah dan halal caramendapatkannya.
Dalil al-Quran dan hadis yang menjelaskan tentang pentingnya mengkonsumsi barang yang suci, halal dan aman, antara lain;

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُلُوا مِن طَيِّبَاتِ مَارَزَقْنَاكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, makanlah yang baik dari yang telah Kami rizkikan kepadamu”. (QS. al-Baqarah [2] :172).

يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُواْ مِمَّا فِي الأَرْضِ حَلاَلاً طَيِّباً وَلاَ تَتَّبِعُواْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah mengikuti langkah-langkah syaitan, karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu”. (QS. al-Baqarah [2]:168)

وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ

“…Dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan atas mereka segala yang buruk…” (QS. al-A’raf [7]: 157).

إِنَّ اللهَ تَعَالَى طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبَاً وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ المُؤْمِنِيْنَ بِمَا أَمَرَ بِهِ المُرْسَلِيْنَ فَقَالَ: (يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوْا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوْا صَالِحاً) (المؤمنون: الآية 51) ، وَقَالَ: (يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا كُلُوْا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ) (البقرة: الآية 172)،ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيْلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ: يَا رَبِّ يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِّيَ بِالحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ)

“Sesungguhnya Allah Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah SWT telah memerintahkan kepada kaum mukminin dengan sesuatu yang Allah perintahkan pula kepada para rasul. Maka Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: “Wahai para rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik dan kerjakanlah amal shalih.” (Al-Mu’minun; 51). Dan Allah SWT berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, makanlah kalian dari rezeki yang baik-baik yang telah Kami berikan kepada kalian.” (al-Baqarah: 172). Kemudian Rasulullah SAW menyebutkan seseorang yang melakukan perjalanan panjang dalam keadaan dirinya kusut dan kotor, dia menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berdoa: “Wahai Rabb-ku, wahai Rabb-ku,” namun makanannya haram, minumannya haram dan pakaiannya haram dan kenyang dengan sesuatu yang haram, lalu bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?” (HR Muslim).

يَا سَعْدُ أَطِبْ مَطْعَمَكَ تَكُنْ مُسْتَجَابَ الدَّعْوَةِ، وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، إِنَّ الْعَبْدَ لَيَقْذِفُ اللُّقْمَةَ الْحَرَامَ فِي جَوْفِهِ مَا يُتَقَبَّلُ مِنْهُ عَمَلَ أَرْبَعِينَ يَوْمًا

“Wahai Sa‘d, perbaikilah makananmu, niscaya doamu mustajab. Demi Dzat yang menggenggam jiwa Muhammad, sesungguhnya seorang hamba yang melemparkan satu suap makanan yang haram ke dalam perutnya, maka tidak diterima amalnya selama empat puluh hari”. (HR. Thabrani)

كُلُّ لَحْمٍ وَدَمٍ نَبَتَا مِنْ سُحْتٍ فَالنَّارُ أَوْلَى بِهِمَا

“Setiap daging dan darah yang tumbuh dari perkara haram, maka neraka lebih utama terhadap keduanya,”. (HR. Al-Thabrani)

Hewan yang Suci, Halal dan Thoyyib

Hewan dapat dihukumi suci, halal dan tidak berbahaya untuk dikonsumsi, selain bisa berlandasakan pada nash al-Quran dan hadis dengan merujuk pada pendapat atau penjelasan ulama, juga bisa berdasarkan pada penilaian secara umum oleh bangsa Arab mengenahi, apakah hewan itu tergolong baik (thoyyib) dan tidak baik (khobits).

كل حيوان استطابته العرب فهو حلال، إلا ما ورد الشرع بتحريمه. و كل حيوان استخبسته العرب فهو حرام، إلا ما ورد الشرع بإباحته.

“Semua yang dipandang baik oleh bangsa Arab, maka halal, kecuali syariat menjelaskan keharamannya. Sedangkan semua hewan yang dianggap buruk oleh bangsa Arab maka ia haram, kecuali ada keterangan syariat yang membolehkannya.”. (Taqrib li Abi Syuja’, halaman 62)

Dalam kitab al-Iqna’ fi halli Alfadzhi Abi Syuja’, juz 2, halaman 234,

Al-Imam Muhammad Khotib al-Syarbini menjelaskan, setiap hewan yang tidak disebutkan dalam al-Qur’an, hadis dan tidak ada penjelasan baik dari dalil umum atau khusus tentang halal dan haramnya suatu hewan atau boleh dibunuh dan tidaknya, maka (hukum) hewan tersebut dikembalikan pada standar penilaian orang Arab. Menggunakan standar bangsa Arab, karena bangsa Arab adalah bangsa yang mulia, karena sebagai bangsa yang pertama kali berinteraksi dengan Al-Qur’an dan hadis. Jika orang Arab menilai hewan ini makanan yang baik, maka baiklah makanan itu dan begitupun sebaliknya.

Dr. Abdullah bin Muhammad bin Ahmad al-Thoriqi menjelaskan, jika suatu kelompok menilai hewan ini baik (thoyyib), sedangkan kelompok yang lain menilai jelek atau menjijikan (khobits), maka dikembalikan pada penilaian mayoritas. Jika kelompok non Arab sepakat tentang suatu hewan yang tidak ditemukan/tidak ada di bangsa Arab, maka penentuan hukumnya disamakan dengan hewan yang menyerupainya; jika serupa dengan yang halal maka hukumnya halal, jika serupa dengan yang haram maka haram pula hukumnya. Tetapi jika tidak ada serupaannya, maka ada dua pendapat; ada yang menghukumi halal dan ada juga ulama yang menghukumi haram (Ahkamu al-Ath’imah fi al-Syari’ati al-Islamiyah, halaman: 84)

Selain menggunakan pendekatan nash al-Quran, Hadis, penilaian bangsa Arab, penetapan hewan dihukumi halal dan thoyyib (baik dan buruknya) bisa juga menggunakan pandangan medis berdasarakan ilmu pengetahuannya. Kita dapat membenarkan keterangan ahli dalam bidang makanan, obat, maupun kosmetik dalam menjelaskan seputar kelayakan, manfaat, maupun bahaya dari suatu barang yang dikonsumsi.

Buaya dalam Telaah Fikih
Bagi bangsa Arab, hewan buaya dikenal dengan nama Timsah.

التمساح وهذا الحيوان على صورة الضب وهو من أعجب حيوان الماء ، له فم واسع وستون ناباً في فكه الأعلى وأربعون في فكه الأسفل ، وبين كل نابين سن صغيرة مربعة ويدخل بعضها في بعض عند الانطباق . وله لسان طويل ، وظهر كظهر السلحفاة لا يعمل الحديد فيه ، وله أربع أرجل وذنب طويل

“Timsah (buaya), hewan ini berbentuk seperti biawak dan tergolong sebagai salah satu hewan menakjubkan yang hidup di air. Ia memiliki mulut yang lebar dan memiliki 60 gigi taring di rahang atas dan 40 gigi taring di rahang bawah. Di setiap celah di antara dua gigi taringnya terdapat gigi-gigi kecil berbentuk kotak yang saling masuk satu sama lain ketika dirapatkan. Ia memiliki lidah yang panjang dan punggung (yang keras) seperti punggungnya kura-kura yang tak mempan ditusuk besi biasa. Ia memiliki empat kaki dan ekor yang panjang,” (Hayatu al-Hayawan al-Kubra¬, juz 1, hal. 237).

وحكمه : تحريم الأكل للعدو بنابه كذا علله جماعة من الأصحاب . وقال الشيخ محب الدين الطبري ، في شرح التنبيه : القرش حلال . ثم قال : فإن قلت أليس هو مما يتقوى بنابه . فهو كالتمساح . والصحيح تحريم التمساح . قلت لا نسلم أن ما يتقوى بنابه من حيوان البحر حرام . وإنما حرم التمساح كما قال الرافعي في الشرح للخبث والضرر

“Hukum mengonsumsi buaya adalah haram, karena ia memperkuat diri dengan taringnya, alasan ini merupakan yang disampaikan oleh sebagian ashab (pengikut Imam Syafi’i). Syekh Muhibbuddin at-Thabari berkata dalam kitab Syarh at-Tanbih: hiu adalah hewan yang halal (untuk dikonsumsi). Lalu beliau berkata: jika engkau bertanya ‘Bukankah hiu termasuk hewan yang mendapatkan kekuatan dari taringnya? Berarti ia seperti buaya, padahal menurut pendapat yang shahih buaya adalah haram’ maka aku akan menjawab: ‘Aku tidak menerima kesimpulan bahwa hewan yang menjadi kuat dengan taringnya dari hewan laut adalah haram, sebab haramnya buaya karena dianggap menjijikkan dan membahayakan, seperti halnya alasan yang diungkapkan Imam ar-Rafi’i dalam kitab as-Syarh al-Wajiz,” (Hayatu al-Hayawan al-Kubra, juz 1, hal. 237).

ومنه القِرْشُ ولا نظر إلى تقويه بنابه ومن نظر لذلك في تحريم التمساح فقد تساهل وإنما العلة الصحيحة عيشه في البر

“Termasuk dari bagian ikan laut (yang halal) adalah ikan hiu. Gigi taring yang dimiliki hiu tidak dipertimbangkan (untuk dijadikan alasan keharamannya). Ulama yang memandang keharaman buaya dari aspek tersebut, sungguh ia telah teledor, sebab alasan yang benar tentang keharaman hewan tersebut adalah kemampuannya untuk hidup di daratan”. (Tuhfatu al-Muhtaj, juz 14, hal. 212).

Apakah Telur Buaya Halal Dikomsumsi?
Pertanyaan diatas tentu mewakili pertanyaan yang serupa; apakah hewan yang haram dimakan dagingnya juga haram mengkonsumsi telurnya?. Dalam beberapa literatur fikih banyak membahas tentang hukum telur berikut hal-hal yang melingkupinya.

Pada dasarnya semua telur hukumnya suci dan halal dimakan, baik telur tersebut dari hewan yang halal dimakan atau tidak, selama tidak membahayakan. Namun demikin meski telur dinyatakan suci, Imam al-Rafi’i menghukumi sunah untuk dicuci/dibasuh terlebih dahulu. Sedangkan telur yang belum keras yang berasal dari bangkai hukumnya najis. Penjelasan diatas merujuk pada pendapat Imam Zakariya al-Anshari dalam kitab Asnal Matholib fisyarhi Raudi al-Tholib, juz 1 halaman 13:

وَالْبَيْضُ الْمَأْخُوذُ من حَيَوَانٍ طَاهِرٍ وَلَوْ من غَيْرِ مَأْكُولٍ وَكَذَا الْمَأْخُوذُ من مَيْتَةٍ أَنْ تُصْلَبَ وَبِزْرِ الْقَزِّ بِكَسْرِ الْبَاءِ أَفْصَحُ من فَتْحِهَا وهو الْبَيْضُ الذي يَخْرُجُ منه دُودُ الْقَزِّ وَمَنِيُّ غَيْرِ الْكَلْبِ وَالْخِنْزِيرِ وَفَرْعُ أَحَدِهِمَا أَيْ كُلٍّ منها طَاهِرٌ خِلَافًا لِلرَّافِعِيِّ في مَنِيِّ غَيْرِ الْآدَمِيِّ لِأَنَّهُ أَصْلُ حَيَوَانٍ طَاهِرٍ نعم يُسَنُّ كما في الْمَجْمُوعِ غَسْلُهُ لِلْأَخْبَارِ الصَّحِيحَةِ فيه وَخُرُوجًا من الْخِلَافِ وَخَرَجَ بِمَا ذُكِرَ بَيْضُ الْمَيْتَةِ غَيْرِ الْمُتَصَلِّبِ وَمَنِيُّ الْكَلْبِ وما بَعْدَهُ وَشَمِلَ إطْلَاقُهُ الْبَيْضَ إذَا اسْتَحَالَ دَمًا وهو ما صَحَّحَهُ النَّوَوِيُّ هُنَا في تَنْقِيحِهِ لَكِنَّ الذي صَحَّحَهُ في شُرُوطِ الصَّلَاةِ منه وفي التَّحْقِيقِ وَغَيْرِهِ أَنَّهُ نَجِسٌ وهو ظَاهِرٌ على الْقَوْلِ بِنَجَاسَةِ مَنِيِّ غَيْرِ الْآدَمِيِّ وَأَمَّا على غَيْرِهِ فَالْأَوْجَهُ حَمْلُهُ على ما إذَا لم يَسْتَحِلَّ حَيَوَانًا وَالْأَوَّلُ على خِلَافِهِ

Penjelasan kehalalan telur dari hewan yang tidak boleh dimakan selagi tidak membahyakan, juga dijelaskan dalam kitab Hasyiah al-Qulyubi juz 1, halaman 82, dan terdapat keterangan dalam kitab Hasyiah al-Jamal, juz 1 halaman 513;

( فروع ) سائر البيوض طاهرة ولو من غير مأكول وإن استحالت دما بحيث لو حضنت لفرخت , ولكن يحرم أكل ما يضر كبيض الحيات.

فرع سائر البيوض طاهرة ولو من غير مأكول وإن استحالت دما بحيث لو حضنت لفرخت ولكن يحرم أكل ما يضر كبيض الحيات وكلها بالضاد إلا بيض النمل فبالظاء المشالة ا ه ق ل على الجلال وعبارة ابن العماد في المعفوات مع شرحها ل م ر بيض الحداء وبيض الصقر حل فكل بيض الغراب وكل من بيض بومته والسلحفاة كذا التمساح مع ورل حكم بيض الغراب في جواز أكله وكل من بيض لقوته بفتح اللام وكسرها العقاب ومثل ما ذكر بيض كل ما لا يؤكل لحمه كذا النووي في المجموع صنفه حيث قال فيه في باب النجاسة إن قلنا بطهارة مني ما لا يؤكل لحمه فبيضه طاهر يجوز أكله بلا خلاف لأنه غير مستقذر

Jika melihat beberapa penjelasan diatas, maka dapat kita pahami bahwa setiap telur adalah suci dan halal dikonsumsi selama tidak membahayakan. Baik telur tersebut dari hewan yang boleh dimakan dagingnya atau tidak. Bahaya dan tidaknya telur pada kesehatan tentu setelah ada penjelasan dari pihak ahli yang membidanginya.

Menarik juga untuk dibaca keterangan yang terdapat dalam I’anatu al-Tholibin, juz 2 halaman 351, ketika menjelaskan pendapat Imam al-Bulqini perihal khilafiyah ulama tentang hukum telur hewan yang tidak boleh dimakan dagingnya. Imam Al-Bulqini mengatakan, pendapat yang mengatakan bolehnya memakan atau mengkonsumsi telur yang tidak boleh dimakan dagingnya menyalahi atau bertentangan dengan penjelasan yang terdapat dalam kitab Al-Umm, kitab Nihayah, At-Tatimmah dan kitab Al-Bahru yang melarang memakannya, meskipun dihukumi suci.

( قوله ويحل أكل بيض غير المأكول ) هذا قد ذكره الشارح في مبحث النجاسة وأعاده هنا لكون الكلام في بيان حكم الأطعمة ( قوله خلافا لجمع ) أي حيث قالوا بحرمة أكله وعبارة الروض وفي حل أكل بيض ما لا يؤكل تردد قال في شرحه أي خلاف مبني على طهارته قال في المجموع وإذا قلنا بطهارته حل أكله بلا خلاف لأنه طاهر غير مستقذر بخلاف المني قال البلقيني وهو مخالف لنص الأم والنهاية والتتمة والبحر على منع أكله وإن قلنا بطهارته.

About the author

KH Abdul Muiz Ali

Leave a Comment