Artikel

Perjalanan Infokom MUI Mencari “Duta Cyber” di 16 Kota

Written by Ichwanul Muslim

Di Tarakan, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Kalimantan Utara KH Zainuddin Dalila menyampaikan peringatan Surat Yasin (36) ayat 65 bahwa pada Hari Kiamat kelak mulut-mulut manusia akan dikunci. Tangan merekalah yang akan berbicara. “Dulu orang susah membayangkan bagaimana tangan berbicara. Sekarang, kita berbicara pakai tangan, dengan memencet-mencet HP,” katanya.

Demikian gambaran keseruan Forum Dialog dan Literasi Media Sosial Berbasis Islam Wasathiyah yang diselenggarakan oleh Komisi Infokom Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat di 16 kota seluruh Indonesia selama tahun 2018 ini. Kegiatan dilaksanakan bersama MUI daerah yang difasilitasi oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) RI. 90 persen pesertanya adalah anak-anak muda muslim usia milinial, antara 15 tahun sampai 35 tahun. Tahun lalu kegiatan yang sama juga diadakan di 16 kota yang berbeda.

Kegiatan ini merupakan bagian dari sosialisasi dari Fatwa MUI No 24 Tahun 2017 tentang Pedoman Bermu’amalah dengan Medsos (Media Sosial). Para narasumber dalam kegiatan ini berasal dari unsur pengurus harian MUI pusat dan lintas komisi, terutama komisi fatwa dan komisi dakwah.

Sementara itu narasumber dari MUI daerah bertugas menyampaikan perkembangan di daerah masing-masing terkait terkait penggunaan media sosial dalam kehidupan masyarakat sehari-hari dan bagaimana potensi “media baru” ini bisa dimanfaatkan untuk pengembangan dakwah Islam di daerah masing-masing. Pada sesi kedua, pihak Kominfo mendatangkan tim yang membekali para peserta dengan keterampilan memproduksi konten-konten positif berupa meme dan video pendek dengan aplikasi yang sederhana dan mudah dioperasikan. Tidak sekedar memproduksi konten, para peserta juga dibekali trik bagaimana konten-konten itu menarik perhatian menurut logika mesin traffic  internet.

Era “Post Truth Politics”

Kegiatan literasi media sosial ini dilaksanakan sebagai tindak lanjut dari kunjungan Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara ke kantor MUI Jl. Proklamasi Jakarta Pusat awal tahun 2017 lalu. Pada tahun itu telah sukses terselenggara kegiatan di 16 kota. Berikutnya, tahun 2018 ini kegiatan literasi media sosial berbasis Islam wasathiyah diadakan di 16 kota yakni Ambon, Ternate, Palu, Gorontalo, Batam, Bengkulu, Jambi, Palangkaraya, Tarakan, Solo, Pekanbaru, Banyuwangi, Sabang, Cirebon, Bangkalan, dan Serang. Saat laporan ini ditulis, hanya tersisa kota Serang Banten yang diagendekan sebagai kegiatan pamungkas untuk tahun 2018 ini.

Booming media sosial pada beberapa tahun belakang ini memang harus menjadi perhatian serius. Dampaknya bisa bermacam-macam. Maraknya hoaks dan konten-kontent yang menyebarkan kebencian yang sudah pada tahap yang cukup mengkhawatirkan itu juga muncul sebagai akibat dari fenomena ini. Polarisasi terbelah cukup signifikan di sosial media. Seringkali percakapan yang terjadi tentang sebuah isu bukan lagi pada tataran diskusi sehat yang membangun, akan tetapi sudah pada tataran saling mencaci, memaki bahkan menghina antara kelompok satu dan yang lainya.

Media sosial berbasis internet yang sekarang diakses melalui telepon genggam ini berpotensi untuk menimbulkan permasalahan tersendiri jika tidak dikelola dengan baik. Untuk mengatasi konflik horizontal yang mungkin ditimbulkan oleh maraknya ujaran kebencian di sosial media, maka perlu dibangun pemahaman dari hilir ke hulu. Pendidikan sosial media kepada para organisasi masyarakan keagamaan menjadi penting agar dapat menetralisir polarisasi yang terjadi.

Ketua MUI Bidang Informasi dan Komunikasi KH Masduki Baidlowi menegaskan, literasi media sosial (medsos) berbasis Islam wasathiyah sangat penting dilanjutkan karena beberapa alasan. Pertama, sampai saat ini Indonesia menjadi 4 besar negara terbesar pengguna medsos (Youtube, Facebook, Tweeter, WhatsApp, Instagram dan lainnya) tetapi minim literasi atau lemah mengedukasi publik terkait mana yg manfaat dan yg berbahaya dari medsos.

“Akibatnya medsos masih lebih banyak dimanfaatkan ke arah yg kaitannya dg hoax atau fake news serta pornografi. Sampai saat ini regulasi terkait dengan medsos masih kurang memberi efek jera pada pembuat produksi konten negatif serta para pemilik produksinya seperti Google dan lain-lain,” ujarnya.

Kedua, saat ini adalah era yang sering disebut orang sebagai post truth politics. Era di mana publik diarahkan, dengan mesin-mesin cyber army, agar lebih percaya pada opini ketimbang percaya pada fakta dan kebenaran. Atas dasar itu, literasi medsos seperti yang dilaksanakan MUI perlu terus dilanjutkan. “Paham keagamaan ekstrem menjadi salah satu menu utama dari era post truth politics itu,” tambahnya.

Jangan Sampai Jari Lebih Cepat!

Wakil Sekjen MUI Pusat Bidang Fatwa KH Sholahudin Al-Aiyub di kota Tarakan Kalimantan Utara, Sabtu (03/11), menegaskan kembali fungsi fatwa MUI tentang bermuamalah dengan media sosial

“Mengapa MUI mengeluarkan fatwa tentang pedoman bermuamalah dengan media sosial, apa tidak ada urusan lain? Hal ini karena dampak media sosial atau dunia maya ini bisa lebih luas dari dunia nyata,” ujarnya.

Ia menyesalkan, semua orang sebenarnya paham kalau berbohong itu dosa. Akan tetapi banyak yang merasa tidak berdosa dengan menyebarkan kebohongan melalui media sosial.“Kaidah yang kita pakai, Al-kitabu kal khitob, apa yang kita tulis dan apa yang kita sebar itu sama dengan apa yang kita sampaikan dengan lisan,” pesannya.

Ketua MUI Provinsi Kalimantan Utara KH Zainuddin Dalila mengingatkan, konten negatif yang dibuat dan disebar melalui media sosial menjadi catatan buruk yang sulit termaafkan. “Kalau kita minta maaf, kita maaf kepada siapa? Semua sudah tersebar,” ujarnya.

Fatwa MUI No 24 Tahun 2017 itu jelas memberikan arahan kepada umat bagaimana menyikapi setiap berita yang beredar. Pertama, tabayyun atau klarifikasi terlebih dahulu. Jangan terburu-buru menyebar info tersebut meskipun disampaikan dengan kalimat tanya secara terbuka di media sosial, “apakah info ini benar?”

Harus dipastikan bahwa bertanyaan itu mengarah kepada pihak-pihak yang kompeten dalam mengklarifikasi berita yang beredar. Bahwan dalam forum literasi media Infokom MUI itu para peserta juga dibekali kemampuan dasar untuk lebih detil meneliti 5W1H dari setiap berita yang beredar. Kadang-kadang informasi yang beredar itu benar adanya. Tetapi konteks waktu dan kejadannya berbeda.

“Kita tabayun dulu, klarifikasi! Jangan sampai jempol kita lebih cepat dari pikiran kita. Bahkan kadang kita belum baca informasi yang masuk ke kita sudah langsung kita sebar,” kata KH Sholahudin Al-Aiyub.

Para peserta juga diajarkan cara mengecek keaslian gambar atau video yang beredar. Sebenarnya tutorialnya untuk mengecek keaslian gambar dan video juga sudah ada di laman Youtube atau bisa dicari dalam situs-situs pencarian seperti Google. Masalahnya banyak orang merasa tidak sempat untuk melakukan tabayyun dan terburu-buru untuk menyebar semua konten yang beredar.

Jika pun benar, info atau gambar dan video yang telah beredar, Fatwa MUI No 24 Tahun 2017 itu juga jelas berpesan bahwa jika pun informasi yang kita terima itu benar, tahap berikutnya adalah memastikan bahwa apa yang akan disebar itu bermanfaat buat umat. Jika tidak bermanfaat dan bahkan dinilai akan membuat kegaduhan atau dampak negatifnya lebih besar, maka informasi yang diterima tidak perlu disebarluaskan. Kontrol ada di tangan kita sendiri.

Ada satu hadits penting yang dikutip dalam fatwa MUI itu, “Cukuplah seseorang disebut sebagai pembohong jika menceritakan segala hal yang dia dengar.” (HR Muslim dari Abu Hurairah).

Generasi Muslim Milenial

Kegiatan literasi media sosial Komisi Infokom MUI ini memang menyasar generasi muda Muslim. Data terbaru yang disampaikan Direktur Tata Kelola dan Kemitraan Komunikasi Publik Kominfo Selamatta Sembiring dalam beberapa kali kegiatan tersebut, dari 150 juta pengguna media sosial, 120 juta adalah generasi milenial. Artinya dengan merangkul sebanyak mungkin generasi milenial ini, dharapkan impak negatif dari media sosial bisa diminimalisir.

Selain itu, dengan melibatkan generasi milenial muslim dalam berbagai kegiatan MUI, diharapkan wajah organisasi yang mewadahi ulama, zu`ama, dan cendikiawan Islam seluruh Indonesia ini akan lebih berwarna. Selama ini, sebagian orang dan pihak media massa mengesankan MUI sebagai “organisasi orang tua”. Ini tidak positif di tengah periode bonus demografi Indonesia yang mana jumlah penduduk muda berusia produktif sangat besar.

Dalam konteks pemanfaatan media sosial, seratusan anak-anak muda yang berasal dari perwakilan MUI Daerah, perwakilan ormas Islam, perguruan tinggi, pesantren dan sekolah di berbagai daerah ini akan menjadi duta MUI dalam menyampaikan dakwah Islam melalui media sosial. Dalam setiap kegiatan di berbagai kota itu bahkan kreatifitas anak-anak muda dalam memproduksi konten-kontek dakwah kreatif ini cukup mencengangkan, tidak terpikirkan oleh para tutor dari Kominfo yang rata-rata berusia lebih senior. Anak-anak muda ini memang mempunyai dunia mereka sendiri. Maka quote, meme, infografis serta video kreatif dan konten dakwah lainnya yang meraka produksi diharapkan bisa menarik untuk generasi seusia mereka.

“Konten kreatif yang positif akan menjadi kebaikan yang bergulir pahalanya,” kata KH Sholahudin Al-Aiyub memberikan semangat kepada anak-anak muda muslim. Mereka adalah generasi shalih-shalihah yang akan menjadi “duta cyber” MUI di berbagai daerah. Insyaallah. (A. Khoirul Anam)

About the author

Ichwanul Muslim

Santri, Guru MAFIKIBI (Matematika Fisika Kimia Biologi) SMP SMA IPA, dan Pengembang Prangkat Lunak berbasis Web dan Mobile

Leave a Comment