Artikel

MUI Terapkan Standar Pelayanan Internasional dengan ISO 9001:2015.

Written by Ichwanul Muslim

Majelis Ulama Indonesia (MUI) adalah Lembaga Swadaya Masyarakat yang mewadahi ulama, zu`ama, dan cendikiawan Islam di Indonesia untuk membimbing, membina, dan mengayomi kaum muslimin di Indonesia. Majelis Ulama Indonesia berdiri pada tanggal 7 Rajab 1395 H, bertepatan dengan tanggal 26 Juli 1975, dan telah berkiprah untuk Indonesia khususnya dan dunia selama lebih dari 73 tahun.

MUI telah mengalami tujuh masa kepemimpinan, sejak Prof. Dr. Hamka hingga sekaran Prof. Dr. KH. Ma`ruf Amin. Setiap saat MUI terus berbenah dan melakukan penyempurnaan pelayanan kepada masyarakat. Jika sebelumnya sosialisasi fatwa MUI hanya dengan majalah dan tulisan surat kabar, saat ini sudah tersedia di website dan sebagian sudah berupa infografis dan meme.

Selama 73 tahun, MUI terus berbenah baik untuk pelayanan bagi masyarakat dan mitra untuk pemerintah (khadiimul ummah wa shadiiqul hukumah) dan berbenah di internal organisasi MUI sendiri. Tepat 10 Oktober 2017, Majelis Ulama Indonesia bersama Badan Amil Zakat terapkan standar mutu ISO 9001:2015.

Ketua Umum MUI, Prof Dr. KH Ma`ruf Amin, berharap tujuan MUI meluncurkan penerapan ISO 9001:2015 sebagai bentuk komitmen MUI untuk terus berkembang menjadi lebih baik seiring perkembangan zaman.

“Apa yang dilakukan MUI adalah bagian dari MUI untuk memperbaiki kinerja dari waktu ke waktu, “ kata Kiai Ma`ruf.

Sebagai organisasi yang di dalamnya terdapat sekitar 60 ormas Islam, Kiai Ma`ruf berharap apa yang dilakukan MUI bisa dicontoh ormas-ormas di dalamnya. Sehingga ormas-ormas Islam yang ada di Indonesia bisa semakin baik di masa mendatang. “Langkah MUI melakukan standarisasi pelayanan mutu akan diikuti oleh ormas-ormas Islam lainnya,” katanya.

Menurut Kiai Ma`ruf, pihaknya ingin agar pengelolaan manajemen Majelis Ulama Indonesia itu menggunakan standar yang seharusnya, sehingga tata kelola organisasi internal menjadi lebih rapi dan tertata.

Jika di luar MUI sudah dikenal baik oleh masyrakat dan banyak diapresisasi berbagai pihak, tambahnya, di dalam MUI sendiri harus terus berbenah. “Back office harus sama baiknya dengan front office, “ ungkap Kiai Ma`ruf.

Prinsip MUI menggunakan ISO sebagai standar, menurut Kiai Ma`ruf, adalah untuk peningkatan berkelanjutan, dan MUI bisa menjadi organisasi Islam pertama yang bersertifikasi internasional dalam memberikan pelayanan kepada umat Islam dan dapat memberikan dorongan ke organisasi Islam lainnya untuk bersertifikat ISO.

“Prinsip kami adalah al-Ishlah ila ma huwal ashlah tsummal ashlah fal ashlah, “ jelasnya.

Prof Jimly Ash-Shiddiqie, Ketua Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI), merasa sangat tertarik dengan pembenahan manajemen pada ormas Islam dan berharap MUI sebagai ormas Islam pertama bisa menjadi role model dan mendorong ormas lainnya untuk menerapkan kembali ucapan Sayyidina Ali dengan penerapan ISO 9001:2015.

“Manajemen pada ormas Islam harus disiplin, rapi, dan teratur, jangan sampai kebatilan yang rapi dan teratur mengalahkan kebaikan yang tidak teratur, al-haqqu bila an-nidzham yaghlibu al-bathilu bi an-nidzham,” papar Prof Jimly.

Dalam suatu perkumpulan, lanjut Prof Jimly, ada istilah crowd dan organize. Jika suatu perkumpulan belum ada manajemen yang baik, perkumpulan itu bisa dikatakan crowd. MUI dengan penerapan ISO 9001:2015 sudah tidak lagi menjadi crowd, perkumpulan acak, tapi perkumpulan yang organize, terorganisir dengan baik.

Ketua Badan Amil Zakat Nasional, Prof Bambang Sudibyo, memuji langkah Majelis Ulama Indonesia dalam berupaya mendapatkan sertifikasi ISO 9001:2015 yang menurutnya lebih sulit dari ISO 9001 versi sebelumnya, yaitu versi 2008.

ISO 9001, seperti dilansir dari wqa.co.id, adalah sebuah standar sistem manajemen mutu yang diakui secara internasional. ISO 9001 merupakan tolak ukur global untuk sistem manajemen mutu yang telah diterbitkan lebih dari satu juta di seluruh dunia.

Tujuan dari ISO 9001 sendiri sudah mengalami tiga kali tahap penyempurnaan sejak pertama kali diterbitkan pada tahun 1987. Perubahan pertama terjadi pada tahun 2000, kemudian 2008, dan versi terbaru dari ISO 9001 diterbitkan September 2015.

ISO 9001:2015 ini memuat beberapa hal utama seperti leadership, dimana peran pemimpin perusahaan atau organisasi diharapkan menjadi lebih aktif dalam mengambil tanggung jawab pelaksanaan sistem manajemen. Qualitiy Management Principle (QMR) pada ISO 9001:2015 terdiri dari tujuh point, yaitu : Customer Focus, Leadership, Involvement of People, Process Approach, Improvement, Factual Approach Decision Making, Mutual Beneficial Supliers.

Konsultan ISO MUI, Dani Budianto, menjelaskan pebedaan ISO 9001:2015 dengan ISO 9001:2008 adalah pada pendekatan dalam operasionalnya. “Versi 2008 itu lebih ke system approach sedangkan 2015 lebih ke process approach,” terangnya.

Mulai saat ISO diterapkan, MUI terus berbenah baik dari sistem pengurusan surat, tata kelola ruangan, dan fasilitas infrastruktur lainnya seperti membangun mushola dan perpustakaan di lantai dasar, mengatur sistem parkir kendaraan, menyediakan ruangan khusus komisi, dan penataan ulang ruang sekretariat.

“Majelis Ulama Indonesia terus berbenah menjadi lebih baik, “ kata Dani.

Hal yang sama, juga dirasakan Buya Anwar Abbas, Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia. Pihaknya merasakan semakin hari semakin baik dalam tubuh internal MUI secara kasat mata. Penyelesa masalahpun menjadi menjadi lebih mudah karena sudah ada satu rujukan tetap dan diterima oleh semua komponen MUI.

“Sebelumnya, saat ada suatu masalah cukup sulit menyelesaikan karena masing-masing punya pendapat dan rujukan, setelah ISO diterapkan dan semua merujuk pada pedoman ISO, semua masalah lebih mudah diselesaikan,” jelas Buya Anwar.

Selain tampak fisik, pembenahan juga dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan karyawan MUI dengan menstandarkan gaji yang sebelumnya jauh dari UMR. Hal tersebut dilakukan agar karyawan MUI bisa maksimal untuk memberikan layanan ke masyarakat.

Dalam prosesnya, untuk menjaga kualitas manajemen organisasi setelah ISO diterapkan, Dewan Pimpinan MUI telah sepakat untuk membentuk biro khusus untuk mengontrol pelaksanaan ISO dalam organisasi MUI.

“Untuk memastikan penerapan ISO berkepanjangan, Rapat Pimpinan (Rapim) MUI telah setuju membentuk biro quality assurance,” terang Buya Anwar.

Lebih lanjut, dalam menjamin terlaksananya penerapan ISO 9001:2015 di lingkungan Majelis Ulama Indonesia akan diadakan audit external setiap tahunnya. Sebelum audit external, internal MUI harus melaksanakan self-check atau yang biasa disebut audit internal.

Audit internal sendiri adalah mekanisme audit yang dilakukan oleh person dari internal MUI dengan surat tugas dari dewan pimpinan MUI sebagai auditor internal. Dalam sistem ISO 9001:2015, proses audit internal diatur dalam klausul 9 dengan judul evaluasi kinerja.  

Setiap pihak diminta melakukan pemantauan, pengukuran, analisis dan evaluasi oleh auditor internal untuk mengecek kesesuaian apa yang sudah tertulis dalam bentuk SOP dan apa yang dilakukan. Setelah temuan auditor internal selesai dibenahi, baru kemudian proses audit external dilakukan. (Ichwanul Muslim).

About the author

Ichwanul Muslim

Santri, Guru MAFIKIBI (Matematika Fisika Kimia Biologi) SMP SMA IPA, dan Pengembang Prangkat Lunak berbasis Web dan Mobile

Leave a Comment