Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Buya Zainut Tauhid Sa’adi berharap berbagai pihak tidak menjadikan polemik keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah tentang penetapan awal Ramadhan, Syawal, dan maupun hari besar Islam lain.

“MUI mengharapkan umat Islam tidak menjadikan hal ini polemik tapi justru harus dijadikan sebagai proses pendewasaan diri dalam menerima perbedaan pendapat,” kata Buya Zainut di Jakarta, Rabu seperti dimuat Antaranews.com (14/3).

Ia menerangkan, MUI menghormati keputusan Muhammadiyah yang menggunakan metode hisab atau perhitungan awal bulan.

“MUI menghormati keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang sudah mengumumkan penetapan 1 Ramadhan 1439 Hijriyah dan 1 Syawal 1439 Hijriyah karena sesuai dengan metode ijtihad yang digunakan, yaitu melalui pendekatan hisab atau perhitungan bulan,” ujarnya.

Ia juga menerangkan, kepada ormas Islam lain yang belum mengumumkan awal puasa dan lebaran karena menggunakan metode rukyatul hilal (melihat bulan), MUI juga menghormati. Intinya, MUI menghormati baik penggunaan metode rukyatul hilal maupun hisab karena keduanya adalah ijtihad.

Sebelumnya, Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menyampaikan, penetapan tersebut merupakan panduan untuk warga Muhammadiyah. Penetapan itu memutuskan 1 Ramadhan 1439 Hijriyah jatuh pada hari Kamis, 17 Mei 2018.

Sementara satu syawal atau dimulainya Idul Fitri 2018 bertepatan dengan Jumat, 15 Juni 2018 dan 1 Zulhijah ada pada Senin, 13 Agustus 2018. Sehingga tanggal 9 Zulhijjah atau Hari Arafah tepat di hari Selasa, 21 Agustus 2018 serta Idul Adha atau 10 Zulhijjah berada di Rabu 22 Agustus 2018.

Sumber: Antaranews.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here